BISMILLAH

Tulisan adalah harta berharga untuk mendeskripsikan pribadimu. Oleh karenanya tetaplah hidup dalam karya hebat. Semoga bermanfaat

Nikmawati S (_NS)

Jumat, 23 Desember 2016

Tridharma Perguruan Tinggi

"Sambutan Rektor UIN Alauddin Makassar pada Pembekalan KKN reguler angkatan ke-53 Tahun 2016"
(Musafir Pababari) Tridharma perguruan tinggi:
1. Pendidikan dan pengajaran
2. Penelitian
3. Pengabdian masyarakat.

Merupakan satu kesatuan yang saling sinergis. Dimana Pendidikan dan pengajaran berlandaskan dari hasil dari penelitian dalam arti pengembangannya bukan hanya sekedar dari buku melainkan juga mendapat support dari penelitian. Sehingga diperoleh informasi aktual yg mengakibatkan mahasiswa  dapat berbicara secara faktual.
Pun begitu dengan penelitian tidak dapat dilakukan tanpa pendidikan ataupun informasi dari buku dan sejenisnya. Pengabdian kepada masyarakat dimana mahasiswa terjun langsung ke masyarakat bukan hanya sebagai pelaksana program kerja namun juga dalam pengabdian dilandaskan ilmu pengetahuan dan penelitian.

1326 mahasiswa yang akan terjun dalam KKN angkatan 53, cukup potensial untuk menjadikan perubahan dalam masyarakat. Diharapkan mampu menjadi motivator pembangunan dalam masyarakat. Untuk KKN angkatan 2013 tidak membayar lagi biaya KKN karena UKT BKT pertama kali diterapkan pada angkatan ini.

Nikmawati


Tegas rektor UIN Alauddin Makassar, Keberhasilan saudara dimasyarakat tidak ditentukan oleh ijazah melainkan soft skill, dimana saudara memiliki jiwa kepemipinan, melahirkan inovasi, bekerja sama.
Seyogyanya mahasiswa mampu melihat potensi yang ada dimasyarakat, dari sinilah dilakukan inovasi untuk pengembangan.

Comunity best research, service learning dan lain-lain diterapkan di UIN Alauddin makassar sehingga dapat menunjang pengembangan dan pembelajaran mahasiswa.
Terakhir, disampaikan juga pengalaman empiris tentang mahasiswa UINAM yang ber-KKN di beberapa desa melaporkan bahwa merasa puas dengan adanya KKN UINAM yang mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Dan ini merupakan hal yang cukup baik, dimana perlu dipertahankan dan diterapkan sebagai pembawa nama baik UIN Alauddin Makassar.
Selamat ber-KKN

_Nikmawati
10:43
Juma'at 23 Desember 2016

Senin, 12 Desember 2016

Apa yang telah anda pelajari

Sedikit banyak orang berjalan tanpa mengetahui apa tujuan dari yang ia lakukan. Menemukan kesadaran bahwa banyak dari kita hanya berjalan bersama waktu, mengikuti alur, terbawa arus, lalu mengendap ditelan zaman. Miris melihat para generasi muda saat ini yang hanya banyak terbuai dan terlena dalam zona nyaman, tak melihat hakikat dari kehidupan yang sesungguhnya, terbuai oleh kemajuan iptek layaknya virus yang siap menginfeksi inang, lalu mengembangkan diri dengan energi yang bersumber darinya. Mau kita didik, arahkan, bahkan bawa kemana generasi kita ini??

Pemikiran tak seharusnya memandang hanya sebatas lingkar kecil, melainkan paham situasi, mampu menelusuri setiap celah yang ada. Setidaknya setiap hari mampu meyakinkan diri dan menguatkan tekad bahwa hari ini akan kujadikan hari yang bermutu dan bermakna. Setidaknya dengan 5 cara, yaitu:
Membaca, menulis, berpikir, Bertanya dan mengarsipkan apa yang telah dipelajari hari ini.

Kekuatan terbesar seseorang adalah terletak pada akalnya. Bukankah telah dikatakan bahwa yang membedakan antara manusia dengan mahluk lainnya adalah nafsu dan akal?Yah Al-aqli! Allah SWT dengan maha agungnya telah memberikan karunia terbesar untuk menggunakan akal. Lantas kita letakkan dimana akal itu.
Terlalu sibuk memikirkan dan menakutkan hal bodoh tanpa bisa menilai diri sendiri secara realistis.

Ini bukan surga kawan!! Bukan sebagai tempa yang hanya untuk bersenang-senang, tapi ini dunia! Tempatnya berlelah-lelahan dan memperjuangkan tujuan yang hakikih.

Mental yang semakin menurun menjadikan mayoritas dari kita terutama peserta didik berada pada titik yang disebut krisis moral yang begitu memprihatinkan. Lihat saja diluarsana pelajar bertingkah seolah tak ada lagi aturan agama, tak ada lagi adat istiadat yang diterapkan secara turun temurun, tak ada lagi nilai tentang posisi diri dan apa yang ada diatasnya.

Kita tak tahu sampai kapan ini akan terjadi, namun semua ini perlu diperbaiki dengan mengerahkan seluruh tenaga, menancapkan cita-cita luhur serta mendapatkan ridho ilahi. Yang dapat kupastikan bahwa semangat untuk perubahan masih berkibar kokoh dalam nafas serta menancap tajam dalam sanubari.

Satu hal yang senang dan selalu kusampaiakan (walaupun telah berualang kali) bahwa hanya pribadi yang ingin berkembang yang mampu menjawab apa yang telah dipelajarinya hari ini.
***
*tanpa terkecuali kita semua dalam tahap pembelajaran

NS
Bulukumba_12/12/16_02.15
nikmasadventure.blogspot.com

Rabu, 07 Desember 2016

Warisan pemimpin



Tak dapat dipungkiri bahwa kita belajar dari hal-hal kecil, hal kecil tersebutlah yang tanpa disadari membentuk figur pribadi. Tujuan dari pemimpin adalah mengangkat anggota tim, bukan malah bertindak sebagai penyuruh. Itulah yang kami pelajari selama ini, kita membentuk secara terstruktur tidak diajarkan untuk menjadi yang terbuang. Dalam menjalankan kepemimpinan tiga hal yang selalu menyerrtai; perhatian yang tulus, kerendahan hati, dan ucapan terimakasih. Dengan 3 hal ini selalu mampu menggerakkan keringanan dalam memimpin. Seorang pemimpin selalu memiliki karisma yang didefinisikan sebagai tindakan pemimpin lebih penting dari orang-orang yang ia pimpin.

nikmawati
Tim work
Warisan terbesar yang ditinggalkan oleh pemimpin adalah pemimpin lain yang didewasakannya sebelum ia mangkat. Bagaimana ia mampu membentuk figur yang memiliki potensi sebagai pemimpin. Menambah nilai pada anggota tim dan menolong mereka meraih kemengangan adalah inti dari kepemimpinan.

Selalu ditanamkan, jadikan masalah sebagai peluang membina karakter. Karena kerja sama tim tidak akan diuji pada masa-masa senang. Keteguhan tim baru akan teruji saat masalah datang menerpa. Sesuai kata C.S Lewis (ahli apologetika): “Tuhan mengizinkan kita mengalami titik-titik rendah kehidupan demi mengajarkan banyak hal yang tak bisa kita pelajari dengan cara yang lain”
Kita terus dibentuk menjadi orang yang selalu merasa tergugah untuk mengerjakan misi hidup
***
Resume part one
_NS

Jumat, 15 Juli 2016

"Wajah pendidikan dan mahasiswa negeriku hari ini"


Beberapa bulan bahkan minggu terakhir ini kembali kita di bisingkan oleh pemberitaan diberbagai media mengenai wajah pendidikan bangsa ini. Sedikit opini dan pandangan tentang wajah pendidikan negeriku Indonesia.
Pendidikan merupakan salah satu motor penggerak perkembangan suatu negara. Ketika pendidikan disuatu negara mampu dikatakan baik maka tak dapat dipungkiri pergerakan dan kemajuan negara tersebut akan berbanding lurus bahkan bergerak pesat. Sebelumnya, sedikit membahas tentang gambaran pendidikan dinegara ini.
Bagaimana wajah pendidikan negeriku Indonesia?
Benih pendidikan telah tertanam di negeri ini sejak beberapa abad yang lalu.
■ Zaman Belanda
Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia pendidikan telah dicanangkan. Pendidikan pada masa ini bertujuan untuk membekali anak pribumi agar mengerti administrasi untuk dipekerjakan dengan upah rendah. Walaupun kita menemukan tujuan yang tidak ideal tapi mengenyam pendidikan adalah hal luar biasa untuk membekali diri. Tentunya pada masa ini benar-benar terlihat dualisme pendidikan, namun hebatnya pendidikan pada masa ini bermuara pada kualitas kelulusan. Ibu jari penggerak negeri inipun lahir dari pendidikan macam ini, contohnya seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dll.
■Zaman Jepang
Sistem pendidikan pada masa ini tidak jauh berbeda dengan masa Belanda. Dimana Indonesia masih tetap sebagai wilayah yang dijajah dan diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan hanya semata-mata untuk kepentingan tertentu. Sistem pendidikan dimasa ini motifnya untuk salah satu penyokong kemenangan militer jepang, dan pada masa inilah lahir tokoh pendidikan Kihajar Dewantara sebagai nasehat pendidikan dari masyarakat pribumi yg nama dan jasanya hari ini masih terkenang dan kita rasakan.
■Zaman setelah kemerdekaan
Pendidikan pada masa awal kemerdekaan tidak jauh berbeda dengan pendidikan sebelumnya karena masih ada pengaruh dari pemerintahan masa sebelumnya. Hingga orde lama-orde baru mulai terjadi pasang surut pendidikan di Indonesia. Namun hebatnya karena orientasi yang benar maka pendidikan di Indonesia sempat menjadi kiblat untuk negara lain. Misalnya saja Malaysia, dulu negara ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu kiblat dalam pendidikannya, hal ini terbukti dengan adanya permintaan Pendidik untuk bekerja di Malaysia dalam jumlah yang tinggi, dan ditemukannya banyak mahasiswa-mahasiswa terbaik malaysia yang dikirim untuk mengenyam pendidikan di Universitas yang ada di Indonesia. Ini hanya contoh kecil tentng pendidikan Indonesia dahulu.
Jadi dapat diketahui bahwa pada masa lampau adapun pasang surut dari dunia pendidikan bermuara pada hasil yang berkualitas.
Maka sekarang timbul pertanyaan bagaimana wajah pendidikan dinegeriku hari ini?
Setelah melihat pelbagai perkembangan pendidikan dari masa ke masa tentunya timbul pelbagai opini mengenai wajah pendidikan di negeri ini. Apa yang keliru dengan pendidikan dinegeriku hari ini?
Dulu, orientasi pendidikan adalah "memanusiakan manusia". Artinya orientasinya mengakar pada pembentukan dan penanaman budi pekerti, etika, dan mendahulukan kepentingan umum. Kemudian setelh itu barulah memupuk keterampilan yang mampu menyokong dirinya. Itulah makna dari memanusiakan manusia.
Terus, orientasi hari ini seperti apa?
Orientasi pendidikan hari ini hanyalah sebatas bagaimana membentuk generasi super di usia sedini mungkin. Pendidikan hari ini selalu berlomba-lomba meningkatkan kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana mengahadapi persaingan sedini mungkin. Namun apa jadinya? karena tidak ada lagi investasi moral dan pembentukan karakter maka diperolehlah generasi hasil didikan yang bobrok karena orientasi langsung pada puncak namun tak memiliki landasan untuk mendarat ataupun tak memiliki persiapan untuk mendaki.
Hingga hilanglah esensi pendidik dan peserta didik seperti yang marak kita temui dikabarkan oleh berbagai media di negeri ini.
Bagaimana dengan mahasiswa?
Kurang lebupih juga sama. karakter mahasiswa telah menurun drastis. Dahulu mahasiswa merupakan penggerak perkembangan pesat negeri ini, bahkan perjuangan hingga merdeka dan bergantinya dari orde lama menuju orde baru kita bisa melihat bagaimana besarnya keterlibatan mahasiswa. Ketika bung Karno mengatakan "beri aku 1000 org tua maka akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan ku goncang dunia".
Lantas sebagai mahasiswa masih bisakah kita menjadi salah satu bagian dari perkataan soekarno tersebut? Ku rasa tidak lagi. Bobroknya karakter mahasiswa hari ini tak mampu lagi menjawab tantangan bung karno tersebut. Karena mahasiswa masih tertutup dan jauh dari kata kritis. Masih membiarkan yang salah, masih terperangkap oleh jaring zona nyaman, dan masih belum peka terhadap masalah sosial bahkan bobroknya lagi masih nyaman dengan perkembangan jejaring sosial yang ternyata begitu banyak menguras waktu hingga lupa bahawa mereka semakin dekat dengan dengan tahap GAME OVER.
Tidakkah ada lagi mahasiswa yang ingin berpetulang melihat dunia, ikut membantu gerakan-gerakan sosial, belajar mengembangkan potensi, melakukan hobi positif seperti kata tere liye.
Ah Itu jauh lebih keren 🙌🙆
_NS
Mamuju, 03 Juli 2016