BISMILLAH

Tulisan adalah harta berharga untuk mendeskripsikan pribadimu. Oleh karenanya tetaplah hidup dalam karya hebat. Semoga bermanfaat

Nikmawati S (_NS)

Selasa, 16 Mei 2017

Sinergitas Pancasila dan Syariat Islam

Begitu hangat perbincangan tentang dasar negara kita beberapa minggu terakhir ini, sedikit tulisan  untuk melihat dua sisi tersebut.

Pancasila merupakan dasar persatuan dan haluan kemajuan serta kebahagiaan bangsa. Namun, dibalik persaksian ada bentuk kesangsian yang kerap dinyatakan kelompok tertentu untuk menolak pancasila sebagai dasar negara. Dalam piagam Jakarta, syariat  harus menjadi landasan konstitusional yang menaungi spirit kehidupan bernegara, dijadikan acuan untuk meneguhkan syariat sebagai dasar negara.
Dalam hal ini syariat memiliki dua makna: teologis dan makna sosiologis. Tergantung masing-masing kelompok menggunakan cara pandangnya dalam memahami dan mengintroduksi syariat. untuk yang berpikir teologis-normative-positivistik, syariat dijadikan sebagai tujuan akhir (Final main) untuk menjalani kehidupan maka wajar bila syariat diimpikan sebagai pedoman maupun dasar ideologis dalam suatu negara. Namun yang berpikir sosiologis-historis-dialektis, syariat ini dijadikan tujuan (Main in between) untuk menyingkap maksud dan makna kehidupan yang dijalani.
Keduanya saling mengisi publik dengan wacana tanding hingga sekarang ini, malah mungkin hal ini sangat terasa disetiap media akhir-akhir ini.

Namun, terlepas dari dinamika pemikiran yang saling bersitegang tersebut kita seperlunya mampu memandang hubungan antara keduanya. dimana analisis sosial untuk menyingkap maksud dan tujuan besar dari sebuah ajaran islam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan melibatkan unsur proyeksi, prognostifikasi, dan spekulasi kepada kemaslahatan. Sehingga syariat dapat disandingkan dengan pancasila sebagai dasar negara. Bukankah dengan menjadikan nilai-nilai pancasila  (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan) sebagai landasan epistemologi pelaksanaan ajaran islam lebih elegan? sehingga pancasila dan syariat dapat saling memberikan napas spiritualitas.

kita ulas satu persatu:
pertama, Ketuhanan menjadi landasan syariat dalam melindungi agama dan kepercayaan
kedua, kemanusiaan menjadi landasan  mewujudkan keadaban dan perlindungan terhadap HAM
ketiga, persatuan yang meniscayakan kerukunan berkeyakinan
keempat, kerakyatan sebagai basis pengumpulan keputusan yang dilakukan berdasarkan musyawarah dan mufakat yang mendorong kemaslahatan publik.
Kelima, keadilan menjadi keniscayaan dalam adanya pola hubungan rerata sekaligus perlu digunakan sebagai saran untuk melestarikan simbiosis-mutualisme dalam bermasyarakat, beragama dan bernegara yang beradab
.
Dengan demikian, pancasila yang memuat nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang bersimetri dengan syariat tergambarkan diatas. karena nilai-nilai yang dibangun dalam pancasila dan syariat sama-sama menyiratkan prinsip kemaslahatan yang menjadi maksud dan tujuan besar untuk keduanya.

Namun yang tak boleh diganggu gugat adalah keyakinan kita ummat islam sebagaimana Firman ALLAH dalam (Q.S Al Kafirun : 6) yang terjemahannya "untukmu agamamu, dan untukku agamaku"

Mungkin bukan dasar negara yah yang salah, namun pelaku dan pemeran negara ini yang perlu dirombak habis-habisan.

16/05/2017
Graha Cipta Hertasning
23.28