BISMILLAH

Tulisan adalah harta berharga untuk mendeskripsikan pribadimu. Oleh karenanya tetaplah hidup dalam karya hebat. Semoga bermanfaat

Nikmawati S (_NS)

Kamis, 21 September 2017

UIN Alauddin Makassar Sang Kampus Kehidupan

Begitulah hidup membawa manusia, segalanya penuh dengan campuran berbagai rasa yang tak pernah terterka. UIN Alauddin itulah universitas yang membesarkan pribadi yang tak berilmu ini kemudian memiliki sedikit pandangan terkait peran serta ilmu dalam kehidupan ini yang kemudian mampu menyuntikkan sedikit makna tentang kehidupan.

kami bukanlah orang yang pandai merangkai kata sehingga membuat meleleh para pembacanya. kami hanyalah orangorang yang terus ingin belajar dan memaknai hidup sebagai bentuk kepercayaan ALLAH SWT yang dengan teguhnya menjadikan khalifah dimuka bumi ini.

Kembali lagi bukan hal mudah menjalani kehidupan yang disebut kampus. Selalu kusebut bahwa semua ini adalah kampus kehidupan. Begitu banyak hal yang perlu di pelajari dalam setiap langkah dan keputusan dan daam proses pendewasaan itulah diri ini mendapatkan banyak pemikiran masukan, pengambilan keputusan hingga dipertemukan dengan hal-hal yang tak pernah sedikitpun terpikir dalam benak. Dalam proses penyelesaian study begitu besar tantangan yang ersasa saat itu yang pada keadaan tersebut dapat ku sebut bahwa itu meruakan hal begitu berat. Namun benar kata-kata positif yang banyak ku temukan dimedia sosial itu meski separuhnya dapat dikatakn lebay. Namun melalui 4 tahun ini suka duka yang tak mampu ku gambarkan bahkan ku tuangkan dalam kata mampu membentuk sosok ini.

Tak dapat berbicara banyak namun yang ku tahu bahwa hidup selalu mengajarkan yang namanya hikmah dan sabar dan melalui itu semua kau akan mengerti apa yang dikatakan hidup bermakna

..dan berbagai bagian yang tidak terjelaskan, semoga langit berbaik hati memberitahu. kalaupun tidak, begitulah kehidupan. ada yang kita tahu. ada pula yang kita tidak tahu.

Hanya satu, ayah sang gadis kecilmu dulu masih senantiasa mengingat segala hal tentangmu termasuk pesan-pesan sebagai bekalku dalam menjalani hidup. Miss U dad and big thanks for you mom.




Selasa, 16 Mei 2017

Sinergitas Pancasila dan Syariat Islam

Begitu hangat perbincangan tentang dasar negara kita beberapa minggu terakhir ini, sedikit tulisan  untuk melihat dua sisi tersebut.

Pancasila merupakan dasar persatuan dan haluan kemajuan serta kebahagiaan bangsa. Namun, dibalik persaksian ada bentuk kesangsian yang kerap dinyatakan kelompok tertentu untuk menolak pancasila sebagai dasar negara. Dalam piagam Jakarta, syariat  harus menjadi landasan konstitusional yang menaungi spirit kehidupan bernegara, dijadikan acuan untuk meneguhkan syariat sebagai dasar negara.
Dalam hal ini syariat memiliki dua makna: teologis dan makna sosiologis. Tergantung masing-masing kelompok menggunakan cara pandangnya dalam memahami dan mengintroduksi syariat. untuk yang berpikir teologis-normative-positivistik, syariat dijadikan sebagai tujuan akhir (Final main) untuk menjalani kehidupan maka wajar bila syariat diimpikan sebagai pedoman maupun dasar ideologis dalam suatu negara. Namun yang berpikir sosiologis-historis-dialektis, syariat ini dijadikan tujuan (Main in between) untuk menyingkap maksud dan makna kehidupan yang dijalani.
Keduanya saling mengisi publik dengan wacana tanding hingga sekarang ini, malah mungkin hal ini sangat terasa disetiap media akhir-akhir ini.

Namun, terlepas dari dinamika pemikiran yang saling bersitegang tersebut kita seperlunya mampu memandang hubungan antara keduanya. dimana analisis sosial untuk menyingkap maksud dan tujuan besar dari sebuah ajaran islam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan melibatkan unsur proyeksi, prognostifikasi, dan spekulasi kepada kemaslahatan. Sehingga syariat dapat disandingkan dengan pancasila sebagai dasar negara. Bukankah dengan menjadikan nilai-nilai pancasila  (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan) sebagai landasan epistemologi pelaksanaan ajaran islam lebih elegan? sehingga pancasila dan syariat dapat saling memberikan napas spiritualitas.

kita ulas satu persatu:
pertama, Ketuhanan menjadi landasan syariat dalam melindungi agama dan kepercayaan
kedua, kemanusiaan menjadi landasan  mewujudkan keadaban dan perlindungan terhadap HAM
ketiga, persatuan yang meniscayakan kerukunan berkeyakinan
keempat, kerakyatan sebagai basis pengumpulan keputusan yang dilakukan berdasarkan musyawarah dan mufakat yang mendorong kemaslahatan publik.
Kelima, keadilan menjadi keniscayaan dalam adanya pola hubungan rerata sekaligus perlu digunakan sebagai saran untuk melestarikan simbiosis-mutualisme dalam bermasyarakat, beragama dan bernegara yang beradab
.
Dengan demikian, pancasila yang memuat nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan yang bersimetri dengan syariat tergambarkan diatas. karena nilai-nilai yang dibangun dalam pancasila dan syariat sama-sama menyiratkan prinsip kemaslahatan yang menjadi maksud dan tujuan besar untuk keduanya.

Namun yang tak boleh diganggu gugat adalah keyakinan kita ummat islam sebagaimana Firman ALLAH dalam (Q.S Al Kafirun : 6) yang terjemahannya "untukmu agamamu, dan untukku agamaku"

Mungkin bukan dasar negara yah yang salah, namun pelaku dan pemeran negara ini yang perlu dirombak habis-habisan.

16/05/2017
Graha Cipta Hertasning
23.28

Senin, 09 Januari 2017

Generasi yang teralienasi

Perkembangan dan kemajuan pola pikir semakin merajalela dalam bayangan kehidupan dunia. Seleksi kebodohan terus berjalan dengan pemberontakan yang tak ingin mengenal asal usul. Kebodohan yang berkembang pesat dari tingkat pendidikan menjadikan manusia manusia tak bernilai akan menjadi sampah yang terbuang. Semuanya sarat akan makna yang ditemukan dalam sejarah kehidupan sosial. Mirisnya melihat generasi yang akan teralienasi karena ketidak mampuan berpikir dan berusaha. Terkungkung oleh kebodohan, terbatas oleh keadaan, terperangkap oleh pola pikir dan hasilnya? Terseleksi oleh zaman, menjadi kaum terbelakang dan terbuang ditengah-tengah perkembangan yang pesat.
Hari ini kebanyakan dari kita yang hanya berpikir untuk melaksanakan tugas demi mendapatkan IP tinggi. Apakah prestasi hanya sebatas itu? tanpa melihat dan menelaah lebih jauh. Melaksanakan tugas-tugas dari birokrasi yang dikerucutkan oleh kita sehingga hanya monoton pada satu arah. Tak pernah membuka mata tentang kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat, pola pemikiran sosial yang mesti diperbaharui, kecacatan dalam masyarakat bukanlah lagi menjadi sesuatu yang mesti dipikirkan dan dipusingi. Kita ini Indonesia kawan, hidup bukan hanya sekadar untuk diri sendiri namun tentang menambah nilai pada diri dan orang lain. Mari belajar peka terhadap keadaan sosial karena kita adalah generasi intelektual.
Kerjakan tugasmu dan kembangkan dirimu.

_Ns
#nulislagi
Desa Tindang, Kec. Bontonompo Selatan
11:02 09/01/17