BISMILLAH

Tulisan adalah harta berharga untuk mendeskripsikan pribadimu. Oleh karenanya tetaplah hidup dalam karya hebat. Semoga bermanfaat

Nikmawati S (_NS)

Jumat, 15 Juli 2016

"Wajah pendidikan dan mahasiswa negeriku hari ini"


Beberapa bulan bahkan minggu terakhir ini kembali kita di bisingkan oleh pemberitaan diberbagai media mengenai wajah pendidikan bangsa ini. Sedikit opini dan pandangan tentang wajah pendidikan negeriku Indonesia.
Pendidikan merupakan salah satu motor penggerak perkembangan suatu negara. Ketika pendidikan disuatu negara mampu dikatakan baik maka tak dapat dipungkiri pergerakan dan kemajuan negara tersebut akan berbanding lurus bahkan bergerak pesat. Sebelumnya, sedikit membahas tentang gambaran pendidikan dinegara ini.
Bagaimana wajah pendidikan negeriku Indonesia?
Benih pendidikan telah tertanam di negeri ini sejak beberapa abad yang lalu.
■ Zaman Belanda
Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia pendidikan telah dicanangkan. Pendidikan pada masa ini bertujuan untuk membekali anak pribumi agar mengerti administrasi untuk dipekerjakan dengan upah rendah. Walaupun kita menemukan tujuan yang tidak ideal tapi mengenyam pendidikan adalah hal luar biasa untuk membekali diri. Tentunya pada masa ini benar-benar terlihat dualisme pendidikan, namun hebatnya pendidikan pada masa ini bermuara pada kualitas kelulusan. Ibu jari penggerak negeri inipun lahir dari pendidikan macam ini, contohnya seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dll.
■Zaman Jepang
Sistem pendidikan pada masa ini tidak jauh berbeda dengan masa Belanda. Dimana Indonesia masih tetap sebagai wilayah yang dijajah dan diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan hanya semata-mata untuk kepentingan tertentu. Sistem pendidikan dimasa ini motifnya untuk salah satu penyokong kemenangan militer jepang, dan pada masa inilah lahir tokoh pendidikan Kihajar Dewantara sebagai nasehat pendidikan dari masyarakat pribumi yg nama dan jasanya hari ini masih terkenang dan kita rasakan.
■Zaman setelah kemerdekaan
Pendidikan pada masa awal kemerdekaan tidak jauh berbeda dengan pendidikan sebelumnya karena masih ada pengaruh dari pemerintahan masa sebelumnya. Hingga orde lama-orde baru mulai terjadi pasang surut pendidikan di Indonesia. Namun hebatnya karena orientasi yang benar maka pendidikan di Indonesia sempat menjadi kiblat untuk negara lain. Misalnya saja Malaysia, dulu negara ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu kiblat dalam pendidikannya, hal ini terbukti dengan adanya permintaan Pendidik untuk bekerja di Malaysia dalam jumlah yang tinggi, dan ditemukannya banyak mahasiswa-mahasiswa terbaik malaysia yang dikirim untuk mengenyam pendidikan di Universitas yang ada di Indonesia. Ini hanya contoh kecil tentng pendidikan Indonesia dahulu.
Jadi dapat diketahui bahwa pada masa lampau adapun pasang surut dari dunia pendidikan bermuara pada hasil yang berkualitas.
Maka sekarang timbul pertanyaan bagaimana wajah pendidikan dinegeriku hari ini?
Setelah melihat pelbagai perkembangan pendidikan dari masa ke masa tentunya timbul pelbagai opini mengenai wajah pendidikan di negeri ini. Apa yang keliru dengan pendidikan dinegeriku hari ini?
Dulu, orientasi pendidikan adalah "memanusiakan manusia". Artinya orientasinya mengakar pada pembentukan dan penanaman budi pekerti, etika, dan mendahulukan kepentingan umum. Kemudian setelh itu barulah memupuk keterampilan yang mampu menyokong dirinya. Itulah makna dari memanusiakan manusia.
Terus, orientasi hari ini seperti apa?
Orientasi pendidikan hari ini hanyalah sebatas bagaimana membentuk generasi super di usia sedini mungkin. Pendidikan hari ini selalu berlomba-lomba meningkatkan kecerdasan, prestasi, keterampilan, dan bagaimana mengahadapi persaingan sedini mungkin. Namun apa jadinya? karena tidak ada lagi investasi moral dan pembentukan karakter maka diperolehlah generasi hasil didikan yang bobrok karena orientasi langsung pada puncak namun tak memiliki landasan untuk mendarat ataupun tak memiliki persiapan untuk mendaki.
Hingga hilanglah esensi pendidik dan peserta didik seperti yang marak kita temui dikabarkan oleh berbagai media di negeri ini.
Bagaimana dengan mahasiswa?
Kurang lebupih juga sama. karakter mahasiswa telah menurun drastis. Dahulu mahasiswa merupakan penggerak perkembangan pesat negeri ini, bahkan perjuangan hingga merdeka dan bergantinya dari orde lama menuju orde baru kita bisa melihat bagaimana besarnya keterlibatan mahasiswa. Ketika bung Karno mengatakan "beri aku 1000 org tua maka akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan ku goncang dunia".
Lantas sebagai mahasiswa masih bisakah kita menjadi salah satu bagian dari perkataan soekarno tersebut? Ku rasa tidak lagi. Bobroknya karakter mahasiswa hari ini tak mampu lagi menjawab tantangan bung karno tersebut. Karena mahasiswa masih tertutup dan jauh dari kata kritis. Masih membiarkan yang salah, masih terperangkap oleh jaring zona nyaman, dan masih belum peka terhadap masalah sosial bahkan bobroknya lagi masih nyaman dengan perkembangan jejaring sosial yang ternyata begitu banyak menguras waktu hingga lupa bahawa mereka semakin dekat dengan dengan tahap GAME OVER.
Tidakkah ada lagi mahasiswa yang ingin berpetulang melihat dunia, ikut membantu gerakan-gerakan sosial, belajar mengembangkan potensi, melakukan hobi positif seperti kata tere liye.
Ah Itu jauh lebih keren 🙌🙆
_NS
Mamuju, 03 Juli 2016